Langit terus bersalin latar, mengganti pencahayaan seenak jidat. Kupastikan mukamu yang lusuh tersamar dengan sempurna berkat efek muram dari langit Bandung untukmu. Lampu jalan anteng saja merah; kemacetan memang parah seperti biasanya di Soekarno-Hatta. Asap menguar dari knalpot-knalpot kendaraan bermotor -- kawan akrab para pengasong dan pengamen dalam mencari penghidupan dari hari ke hari -- sementara kamu anteng saja melamun, menunggu kepastian dari ketidakpastian hidup yang diperagakan dengan sempurna oleh lampu merah perempatan Carrefour Buah Batu.
Sementara detik melambat; jangan tanya aku mengapa, memang begitu dari sananya; kamu mulai menceburkan diri dalam gelungan pikiranmu. Kamu mulai melayang di antara gagasan-gagasan, baik gagasan buruk maupun gagasan baik; dan memang sudah sewajarnya seperti itu. Lampu jalan masih merah, kamu sepertinya paham mengapa temanmu mengajakmu minum kopi sembari menunggu macet, tapi toh, kau memilih kesendirian ini dengan sadar, kan?
Agaknya petang itu di sepanjang Soekarno-Hatta berbeda. Kamu merasakan batas samar yang menguat seiring berjalannya waktu; mulai dari batasmu dengan teman-temanmu sampai batas antara mana yang benar dan salah, batas antara mana yang baik dan buruk, dan batas tentang mana yang benar-benar benar dan benar-benar salah. Itulah yang membuatmu seperti ini. Agaknya kamu tersesat di antara dinding-dinding tebal yang tersusun dari campuran batas-batas dan waktu yang tertuang tanpa bisa dihentikan. Kali ini juga, kamu lupa kamu berada dimana. Atau mungkin kamu sengaja lupa; sekali lagi, aku benar-benar tidak tahu.
Lalu, sekaget balita yang pertama kali melihat pertunjukkan kembang api, para pengendara motor kaget melihat kamu melaju menembus truk gandeng yang datang dari arah Kiaracondong. Motormu, tasmu, sepatumu, dan badanmu, sebagian tertinggal tepat di tengah-tengah perempatan; sebagiannya lagi tersangkut di bemper depan truk itu. Sementara kamu anteng saja, terus melaju lurus menuju kepastian yang sudah lama kamu nantikan dan akhirnya kamu dapatkan petang itu di sepanjang Soekarno-Hatta.
jatinangor, tigapuluh delapan delapanbelas.